Kamis, 06 Juli 2017

Mengkonsumsi Banyak Gula Saat Hamil Bisa Menimbulkan Risiko Alergi

Kamis, 06 Juli 201708.42.00
Perempuan Hamil
Ilmuwan menyarankan kepada wanita hamil untuk menghindari makanan dengan tinggi gula karena berisiko memiliki anak dengan alergi.

Sebagai wanita hamil adalah lebih baik menghindari mengkonsumsi makanan yang tinggi gula. Selain itu, yang berlebihan memang selamanya tidak baik untuk kesehatan.

Sebuah penelitian penemuan bahwa wanita hamil yang sering mengkonsumsi gula dalam jumlah besar, lebih mungkin memiliki anak dengan asma alergi dan alergi.

Klaim tersebut didasarkan pada sebuah penelitian terhadap 9.000 wanita, penelitian itu menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi gula tingkat tinggi selama kehamilan dua kali lebih mungkin memiliki anak yang mengembangkan asma alergi daripada wanita yang mengonsumsi gula relatif sedikit. 

Asma alergi adalah bentuk asma yang paling umum, dan melibatkan alergen yang merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menimbulkan masalah pernapasan.

"Kami tidak dapat mengatakan berdasarkan pengamatan ini bahwa asupan gula yang tinggi oleh ibu pada kehamilan pasti menyebabkan alergi dan asma alergi pada keturunan mereka," kata Seif Shaheen di Queen Mary, University of London, yang memimpin penelitian ini. 

"Namun, mengingat konsumsi gula yang sangat tinggi di Barat, kami pasti akan menyelidiki hipotesis ini lebih lanjut dengan beberapa urgensi."

Satu teori tentang bagaimana gula dapat menyebabkan asma adalah bahwa sejumlah besar fruktosa dapat memicu respons kekebalan tubuh, yang menyebabkan peradangan di paru-paru. 

Fruktosa adalah gula yang ditemukan pada sirup buah dan jagung, dan banyak digunakan dalam makanan olahan.

Banyak faktor yang mempengaruhi bayi terdampak alergi termasuk paparan mikroba dan polutan, dan jenis susu yang mereka makan, kata Sheena Cruickshank, di University of Manchester, Inggris. 

"Penelitian selanjutnya harus memperhitungkan variabel-variabel ini sehingga kita dapat memahami keseluruhan hubungan antara diet ibu selama kehamilan dan penyakit alergi pada keturunan."

Sumber : newscientist.com

Poskan Komentar: