Kamis, 17 Maret 2016

Ilmuwan Muda Indonesia Bantah Sebagai Penemu 4G LTE

Kamis, 17 Maret 201614.49.00
wifi radio
Tidak ada tokoh ilmuwan teknologi sebagai penemu teknologi jaringan 4G LTE, tapi teknologi itu hanya disepakati sebagai teknologi jaringan baru di forum internasional dan sebagai standar di dunia ITU-R.

Nasi sudah jadi bubur, begitulah yang terjadi di Indonesia bahwa sebagian besar masyarakat sudah terlanjur percaya bahwa ilmuwan muda Indonesia adalah sebagai penemu jaringan 4G LTE, ternyata tidak ada tokoh ilmuwan teknologi sebagai penemu teknologi 4G LTE, tapi teknologi itu, hanya disepakati sebagai teknologi baru di forum teknologi internasional. 

Profesor Khoirul Anwar Bukan Sang Penemu 4G LTE

Dr. Eng. Khoirul Anwar (lahir di Kediri tahun 1978) adalah seorang ilmuwan Indonesia. Ia dikenal sebagai pemilik paten teknologi broadband yang menjadi standard internasional ITU, baik untuk sistem teresterial (di bumi) maupun satelit (di luar angkasa). 

Ia telah menemukan teknik transmisi wireless dengan dua buah fast Fourirer transform (FFT), yaitu FFT kecil dan (I)FFT besar (dua pada transmitter dan dua pada receiver). Teknik ini mendapatkan penghargaan pada Januari 2006 dari IEEE Radio and Wireless Symposium (RWS) tahun 2006, di California dan menjadi standard international telecommunication union (ITU), ITU-R S.1878 and ITU-R S.2173. (id.wikipedia.org)

Informasi yang ditulis oleh Wikipedia.org tentang Khoirul Anwar cukup akurat dan disana tidak ditemukan informasi bahwa Khoirul Anwar adalah sang penemu 4G LTE sebagaimana di percaya oleh banyak warga negara Indonesia, dan telah disebutkan diatas, bahwa beliau cuma menemukan teknologi FFT (Fast Fourirer Transform), namun demikian, teknologi yang ditemukan Khoirul Anwar memiliki kontribusi yang cukup besar di dunia teknologi 4G LTE dan bahkan menjadi standar di dunia  ITU-R (International Telecommunication Union - Radio)

The ITU Radiocommunication Sector (ITU-R) is one of the three sectors (divisions or units) of the International Telecommunication Union (ITU) and is responsible for radio communication.

Dengan kata lain, seperti dilansir dari kompas.com bahwa Teknologi 4G LTE sendiri dirumuskan oleh badan standardisasi internasional bernama 3rd Generation Partnership Project (3GPP) yang menaungi hampir semua pelaku industri telekomunikasi. 

Saat standar (spesifikasi) 4G LTE sudah diresmikan, semua vendor telekomunikasi akan menyesuaikan produknya dengan standar tersebut. Hal inilah yang memungkinkan produk 4G LTE bisa digunakan di seluruh dunia. 

Profesor Khoirul Anwar Tidak Mengklaim Dirinya sebagai Penemu 4G LTE

Di dalam buku PABXII, saya tidak menulis sebagai penemu 4G LTE karena 4G LTE sendiri seharusnya memang tidak ditemukan, melainkan disepakati. Forumlah yang menyepakati teknik tertentu untuk dipakai atau tidak dipakai dalam sebuah standard. Thanks kepada yang selalu konfirmasi ke saya terlebih dahulu setiap akan posting di publik tentang masalah sensitif ini. Yang saya temukan dan patenkan adalah konsep dua FFT. Ini menjadi prinsip dasar dari teknik SC-FDMA yang dipakai pada uplink 4G LTE. Dengan prinsip dua FFT tersebut, 4G LTE secara teori memang seharusnya lebih baik dalam efisiensi power dan spectrumnya. Tulis Khoirul Anwar diblog pribadinya.

Kontroversi FFT bukan Teknologi Baru

Dilansir dari Detik.com bahwa Sejumlah peneliti berpendapat, konsep dua FFT yang disampaikannya bukan hal baru. Seperti yang baru-baru ini dikemukakan Dr. Basuki Priyanto dan Dr. Eko Onggosanusi. Keduanya berpendapat, konsep dua FFT tersebut sudah dipublikasikan pada 2002.

"Konsep dua FFT ini baru dan paten granted serta menjadi standard international ITU. Karena kalau tidak baru kan harusnya tidak lolos patent dan tidak menjadi standard," kata Khoirul menjawab pendapat tersebut.

Dikatakannya, hingga sebuah temuan akhirnya berhasil dipatenkan, prosesnya lama dan berliku. Peneliti lain boleh membantah atau meragukannya, dan di sinilah kegigihan si penemu konsep memperjuangkan temuannya diuji.

Ini juga yang terjadi pada Khoirul dengan temuan konsep dua FFT-nya. Berkali-kali diprotes karena diklaim mirip dengan paten milik orang lain, sudah dialaminya. 

"Jadi saya diminta membuktikan bahwa ini baru. Akhirnya kembali menurunkan rumus untuk membuktikannya. Berkali-kali dan ganti-ganti paper. Bahkan ada paten lain yang harus dibaca karena mirip. Akhirnya menurunkan rumus lagi untuk membuktikan berbeda. Sampai final-nya menjadi standard ITU dan tidak ada lagi review dan protes dari reviewer," kenang-nya. 

Dilansir dari kompas.com, Masih menurut Khoirul, saat pertama dipublikasikan, banyak kalangan yang tidak yakin dengan konsepnya. Dia menyambut baik ketika dalam standar 4G LTE kemudian tercantum mengenai pemakaian dua FFT.

Namun, hal tersebut bukan berarti temuan Khoirul sudah pasti diterapkan dalam implementasi 4G LTE oleh semua pihak karena pemakaian dua FFT adalah salah satu cara untuk menerapkan komponen OFDM dalam spesifikasi 4G LTE.

"Jika ada 4G yang tidak memakai dua FFT, berarti bukan berdasar konsep yang saya kerjakan," kata Khoirul.

Kesimpulan: bukan Profesor Khoirul Anwar sebagai sang penemu 4G LTE, namun, komponen teknologi temuannya telah dijadikan sebagai konsep standar teknologi komunikasi 4G LTE di dunia ITU-R.

Poskan Komentar: