Saturday, July 5, 2014

Keajaiban Orang Tibet Bertahan Hidup di Dataran Tinggi

Saturday, July 5, 20141:36:00 AM
wanita tibet
Nenek moyang orang Tibet kawin dengan spesies manusia lain yang kini sudah punah, yakni Denisovans. Spesies lain dari manusa ini diperkirakan hidup sekitar 40.000 tahun lalu. I foto: china.org.cn

Orang tibet sangat nyaman hidup di dataran tinggi dengan kondisi udara yang sangat tipis, tapi ajaibnya mereka dengan mudah dapat bernapas layaknya manusia normal di dataran rendah. Dataran tinggi bagi orang biasa kemungkinan akan mengalami kesulitan untuk bernapas dan menyebabkan sejumlah masalah kesehatan.

Ternyata ada sebuah gen unik yang dimiliki orang Tibet sehingga mereka dapat dengan mudah untuk bernapas. Sebuah studi menemukan bahwa ada varian gen khusus di dalam tubuh orang Tibet, yakni EPAS1, gen inilah yang menyebabkan orang Tibet dapat bertahan hidup di dataran tinggi dengan kondisi udara yang sangat tipis.

Dilansir dari news.sciencemag.org, Asal Usul Gen EPAS1, yakni dari mutasi genetik yang berasal dari spesies manusia kuno lain yang telah punah, spesies manusia kuno ini dikenal sebagai Denisovans, yang telah punah setelah mereka kawin dengan nenek moyang orang Eropa dan Asia sekitar 40.000 tahun yang lalu.

Ini adalah pertama kalinya sebuah versi gen yang diperoleh dari kawin campur dengan jenis lain dari manusia yang membantu manusia modern untuk beradaptasi dengan lingkungan mereka.

Para peneliti telah lama bertanya-tanya bagaimana orang Tibet tinggal dan bekerja di ketinggian di atas 4000 meter, di mana terbatasnya pasokan oksigen yang membuat sebagian besar orang jatuh sakit.

Orang dataran tinggi lainnya, seperti di dataran tinggi Andes, orang Andes telah beradaptasi dengan udara tipis tapi mereka membawa lebih banyak oksigen hemoglobin di dalam darah mereka.

Tapi Tibet telah lama beradaptasi dengan lebih sedikit menyerap oksigen hemoglobin di dalam darah mereka, ilmuwan berpikir sifat inilah yang membantu mereka menghindari masalah kesehatan serius, seperti pembekuan darah dan stroke yang disebabkan ketika sel darah merah mengental.

Penelitian ini ditemukan pada tahun 2010 bahwa orang Tibet memiliki beberapa gen yang membantu mereka menyerap sejumlah kecil dari oksigen secara efisien. Sehingga memungkinkan mereka menyuplai oksigen ke semua anggota badan mereka saat bekerja di ketinggian. Gen yang disebut EPAS1, yang mengatur produksi tubuh dari hemoglobin.

Penemuan ini merupakan kasus kedua di mana manusia modern telah memperoleh suatu sifat dari manusia kuno, catatan paleogeneticist Svante Paabo dari Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusi di Leipzig, Jerman, yang mana timnya menemukan orang Denisovan. Awal tahun ini, tim lain menunjukkan bahwa bangsa Maya, khususnya, telah mewarisi varian gen dari Neanderthal yang meningkatkan risiko untuk diabetes.

Hemoglobin adalah metaloprotein (protein yang mengandung zat besi) di dalam sel darah merah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh, pada mamalia dan hewan lainnya. Hemoglobin juga pengusung karbon dioksida kembali menuju paru-paru untuk dihembuskan keluar tubuh. (id.wikipedia.org)

Poskan Komentar: