Rabu, 12 Maret 2014

Mengharukan, Ayah Cina Membawa Putranya Pakai Keranjang

Rabu, 12 Maret 201409.01.00
ayah china
Ayah gendong putranya di punggung menggunakan bakul menuju dan pulang sekolah I foto dailymail.co.uk
UNIK. Kisah seorang ayah di Cina dengan putranya yang cacat telah berjalan 18 mil setiap sehari ke sekolah dan kembali telah memanaskan hati orang di seluruh dunia terutama disitus jejaring sosial dan media berita lokal china. 

Hingga berita ini diturunkan dan sampai ke telinga pemerintah setempat telah mengambil inisiatif untuk menanggung biaya akomodasi agar sang anak hidupnya lebih mudah.

Dilansir dari media online china, seorang ayah tunggal dari pedesaan Sichuan, China setiap hari menghabiskan hampir enam jam berjalan bolak-balik untuk anaknya yang cacat ke sekolah.

Setiap pagi, Yu Xukang bangun pukul 6:00 dan lepas landas dari rumah sekitar jam 7:00, membawa anaknya di punggungnya dengan keranjang khusus di mana ia bisa membawa anak itu di punggungnya ke dan dari sekolah setiap hari.

Dia menghabiskan lebih dari dua jam berjalan mengantarkan putranya ke sekolah, dan pada sore hari sekitar 4:00, ia membawanya kembali ke rumah lagi dalam jumlah waktu yang sama.

Secara total, Yu menghabiskan sekitar enam jam per hari perjalanan bolak-balik karena kurangnya transportasi di daerah pedesaan.

Anak Yu, telah berusia 12 tahun, baru saja mulai kelas satu karena kecacatannya. Tangan dan kakinya bengkok dan tulang belakang sangat melengkung.

"Dari pusat kesehatan kota ke rumah sakit di kota, kami telah ke mana-mana, tapi dokter tidak tahu apa penyakit ini dan tidak bisa memberikan diagnosis." Kata Yu.

Ibu Qiang melarikan diri ketika ia berusia 3 tahun, dan sejak saat itu, Yu telah mengambil tanggung jawab membesarkan anaknya seorang sendiri.

Dia berjalan 28 kilometer dengan berjalan kaki setiap hari, jika ditotalkan sekitar 2.500 kilometer. Karena ia melakukan perjalanan di jalan pegunungan terjal, Yu telah mengganti tiga pasang sepatu karet dalam setengah tahun.

"Kami tidak pernah terlambat," katanya bangga.

Melansir dari The Daily Mail, "Saya tahu putra saya memiliki keterbatasan fisik, tetapi tak ada yang salah dengan otaknya. Sayangnya, tak ada sekolah yang bisa menerima dia di sini," kata Yu.

"Satu-satunya sekolah yang mau menerimanya hanyalah di SD Fengyi yang jauhnya sekitar 8 kilometer dari desa kami," ujar Yu.

Kabar baiknya adalah bahwa setelah pemberitaan penderitaan Yu pecah di media lokal, pemerintah China turun tangan dan menawarkan untuk menyewa rumah di dekat sekolah sehingga ia tidak harus berjalan jauh setiap hari.

Selain itu, sekolah Xiao juga akan memiliki asrama dan Xiao bisa menjadi penghuni asrama sehingga bisa mengurangi beban sang ayah.

Poskan Komentar: