Senin, 02 Desember 2013

Impian Kakenya, Kartini Kenya Membuka Sekolah Perempuan

Senin, 02 Desember 201311.00.00
kakenya-Ntaiya
Kakenya Ntaiya (foto:edition.cnn.com)

Setiap orang mempunyai impian atau cita-cita mulia tapi karena satu atau beberapa kondisi setempat dan keuangan banyak impian mereka dikubur yang sedalam-dalamnya. Tapi tidak bagi Kakenya Ntaiya yang gigih melawan tradisi di negaranya yang penuhi adat istiadat yang ketal dan ketat.

Kakenya Ntaiya (34 tahun) lahir di Kenya adalah salah satu wanita di negara itu yang mendidik anak perempuan untuk pertama kalinya. Kakenya Ntaiya menginspirasi perubahan di Desa asalnya Kenya. Setelah menjadi wanita pertama di Desa untuk menghadiri kuliah di Amerika Serikat, ia kembali membuka sekolah dasar pertama di Desa itu untuk anak perempuan.

"Pekerjaan kami adalah tentang pemberdayaan perempuan," kata Ntaiya. "Mereka bermimpi menjadi pengacara, guru, dokter." Katanya kepada wartawan CNN. 

Perjuangan Kakenya Ntaiya Di Kenya

Aku bermimpi di mana semua gadis di desa saya bisa pergi ke sekolah." Kata Kakenya di situsnya.

Menjalani kehidupan masa kecil, Kakenya Ntaiya seharusnya mengikuti jalan tradisional. Terlibat pada usia 5 tahun, ia seharusnya disunat pada saat dia masih remaja, suatu peristiwa yang akan menandai akhir dari pendidikan dan awal persiapannya untuk menikah. Tapi Kakenya memiliki rencana yang berbeda.

Pertama, ia bernegosiasi dengan ayahnya: ia akan disunat hanya jika dia juga bisa menyelesaikan SMA. Dia setuju. Lalu ia bernegosiasi dengan para tetua desa untuk melakukan apa yang tidak ada gadis yang pernah dilakukan: meninggalkan desa Maasai Enoosaen di Kenya selatan untuk pergi ke perguruan tinggi di Amerika Serikat.

Dia berjanji bahwa dia akan menggunakan pendidikannya untuk manfaat Desa Enoosaen. Seluruh desa mengumpulkan uang untuk membayar perjalanannya.

Kakenya menerima beasiswa ke College Randolph-Macon gilr di Virginia. Gadis yang dibesarkan tanpa listrik menulis makalah tentang hubungan internasional dan ilmu politik pada komputer di perpustakaan universitas. Dia melanjutkan ke University of Pittsburgh, di mana dia menerima Doktor Pendidikan pada tahun 2011. Sambil menyelesaikan studinya di Amerika Serikat, ia menikah dan memiliki dua anak.

Sebagai sarjana, ia menjadi penasihat pemuda pertama untuk United Nations Population Fund. Dalam kapasitas itu, ia berkeliling dunia sebagai pendukung yang gigih untuk pendidikan anak perempuan, yang ia melihat sebagai alat penting untuk melawan praktik mutilasi kelamin perempuan dan perkawinan anak-anak.

Kakenya sekarang memenuhi janjinya untuk komunitasnya. Sebagai pendiri dan presiden Center for Excellence Kakenya, pondok pesantren utama putri di Desa Enoosaen, Kenya, Kakenya percaya bahwa pendidikan akan memberdayakan dan memotivasi gadis-gadis muda untuk menjadi agen perubahan dalam masyarakat dan negara mereka.

Center for Excellence Kakenya dibuka pada Mei 2009 dan saat ini telah memiliki 155 siswi di kelas empat sampai delapan. Hal ini telah menjadi mercusuar harapan bagi anak-anak dan orang tua di Desa Enoosaen.

Kakenya mendapat kehormatan dengan penghargaan Vital Voices Global Leadership pada tahun 2008 dan sebagai National Geographic Explorer Muncul pada tahun 2010. Dia sebagai salah satu dari Newsweek "150 Wanita yang Menggetarkan Dunia"

Dia adalah pembicara utama di TEDx MidAtlantic Conference pada tahun 2012 dan dihormati sebagai pahlawan CNN pada 2013. Kisahnya telah menjadi subyek dari serangkaian Washington Post, sebuah film dokumenter BBC, dan banyak artikel majalah.

Sumber Kisah kakenya : kakenyasdream.org


Poskan Komentar: