Rabu, 18 September 2013

Memiluhkan, Inilah Pemulung Wanita Tertua di China

Rabu, 18 September 201323.01.00
pemulung wanita tertua
Tan Xiaozhen, usia 101 tahun yang tidak memiliki uang saku, mencari nafkah sendiri dengan mengumpulkan dan menjual kotak busa di Provinsi Guizhou barat daya China. foto kanan sedang memikul beban, kiri sedang istrahat mengumpulkan tenanga I foto english.sina.com
Tan Xiaozhen, nenek ini telah berusia 101-tahun yang tidak memiliki uang saku, mencari nafkah sendiri dengan mengumpulkan dan menjual kotak busa di Provinsi Guizhou barat daya China.

"Saya tiba di Guizhou lebih dari 50 tahun yang lalu.  Namun, saya tidak memiliki rumah tangga mendaftar di kota ini, "kata wanita tua.

wanita tua jadi pemulung
Tan Xiaozhen, usia 101 tahun yang tidak memiliki uang saku, mencari nafkah sendiri dengan mengumpulkan dan menjual kotak busa di Provinsi Guizhou barat daya China. foto kanan dan kiri sedang memikul beban menuju kepasar I foto english.sina.com
wanita tertua di china
Tan Xiaozhen, usia 101 tahun yang tidak memiliki uang saku, mencari nafkah sendiri dengan mengumpulkan dan menjual kotak busa di Provinsi Guizhou barat daya China. foto kanan memikul beban dan kiri sedang berada dipasar dengan memikul beban I foto english.sina.com
Mari nyanyi : Titip Rindu Buat Ayah, oleh: Ebiet G Ade

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm...
Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm...
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia

Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm...
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia

Poskan Komentar: